"Mungkin kita terlalu bebal membaca tanda-tanda Nya, De"

Jawaban ke Eni membuatku terhenyak sesaat, saat aku mengutarakan betapa aku membutuhkan seseorang yang besedia mendengar. Yang memahami tapi tak menggurui. Yang memahami tapi tak memaksakan diri untuk mengerti.

Aku bilang padanya, aku kehilangan kepercayaanku pada manusia dan ketika aku kembali mengadu pada Nya, jawaban seperti tak kunjung ditampakkannya.

"Mungkin Allah sudah banyak memberi jawaban, tapi kita menutup mata dan telinga kita untuk hal yang seharusnya kita lakukan tapi tak ingin kita lakukan."

Mungkin kita terlalu banyak berpikir dan memperumit keadaan. Mengeneralisir untuk semua kesalahan di masa lalu dan menjadiaknnya alasan untuk beberapa keadaan yang menyesakkan. Mungkin kita hanya seringnya memilah prilaku manis manusia tapi enggannya kita untuk memberi manis yang sama. Mungkin kita hanya perlu sedikit merengangkan eratan jemari kita yang kita katupkan erat pada kedua gendang telinga kita, hanya untuk mendengar nada-nada lirih rasa maaf dan terimakasih dari orang-orang yang dulu sempat menjadi orang-orang penting dalam kehidupan kita. Membuka mata untuk semua ketulusan yang pernah mereka ulurkan, dan sesaat membuat kita pernah merasa lebih baik.

"Mungkin kita terlalu bebal, De."

Aku mengangguk lemah, tanganku segera meraih handphone yang tergeletak di samping tanganku. Mataku menatap satu nomer kontak tanpa nama.

Komentar

Postingan Populer