Aku membunuh rindu pada sisa tanah basah selepas gerimis. Pada detak jam dan suara dubbing anime dari layar laptop yang menyala semalaman. Pada blog pencinta hujan dan senja, yang justru membawa rindu itu kembali. Meminta untuk direngkuh, dan memancingku untuk men -touch tombol calling. 

Menghitung satu-satu, hari berlalu. Sampai akhirnya, aku berpura pura tak merindukan lagi; laki-laki berjanggut lebat pemilik senyum yang meruncing di kedua bibirnya. 

Untuknya, laki-laki sederhana yang tak menawarkan apa-apa, aku terus berpura-pura tak mengingat betapa helai ikal rambut nya semakin gondrong. Betapa aku ingin memeluknya erat ketika laki-laki berbahu kekar melajukan motornya kencang dan memintaku untuk mengeratkan jemari di saku jaketnya, dan aku berpura-pura meresapi tetes gerimis di sela bibirku. Tak mendengarnya. 

Tapi, aku terus merinduinya bahkan ketika wajah kami tak berjarak sejengkalpun. 

Berpura-pura tak merinduinya, seperti mengubur jejak kakinya pada tanah basah selepas hujan. Membuat jejaknya makin menjelma cinta.

Komentar

Postingan Populer