Memoar tak selalu biru, mengapa malaikat hujan tak henti kisahkan tentang pilu?
Aku menyebutnya bulan purnama yang tak sempurna. Bulatnya tak sepenuhnya bulat, seperti butuh beberapa putaran lagi untuk membuatnya bulat sempurna. Cahayanya juga tak terlalu terang, meredup, bahkan tampak samar hitam tertutup awan yang menggumpal. Satu dua bintang yang terangnya samar terus berada di sekelilingnya, meski jika dihitung jaraknya, mereka tak kalah jauhnya dengan keberadaanku di beranda, menatap pukau redup bulan yang tertutup cahaya lampu jalan.
Aku ingat dua tahun lalu, melempar senyum pada bulan purnama yang tak sempurna, sebagai perwakilan rasa yang harus kulempar jauh-jauh. Ketika menyimpulkan rasa terasa sangat sederhana. Dan merasakannya pun, dadaku tak menyimpan beban apapun. Cinta rasanya begitu tulus.
Lalu saat dengan apiknya, semesta mengijinkanku untuk menatapnya dalam diam. Menvyelipkannya di antara langit yang mengabut. Membiarkan Tuhan membungkusnya dalam bentuk yang lain, yang dengan misteri-Nya, aku putuskan untuk ikhlas jika Dia juga yang kemudian mengubah bentuknya demikian rupa, sang malaikat hujan menari di antara percikan gerimis yang dia ciptakan. Di atasnya, sang bulan purnama yang tak sempurna itu tergantung dengan guratan hitam yang kian jelas.
Lalu saat dengan apiknya, semesta mengijinkanku untuk menatapnya dalam diam. Menvyelipkannya di antara langit yang mengabut. Membiarkan Tuhan membungkusnya dalam bentuk yang lain, yang dengan misteri-Nya, aku putuskan untuk ikhlas jika Dia juga yang kemudian mengubah bentuknya demikian rupa, sang malaikat hujan menari di antara percikan gerimis yang dia ciptakan. Di atasnya, sang bulan purnama yang tak sempurna itu tergantung dengan guratan hitam yang kian jelas.


Komentar
Posting Komentar