Mari menari dalam tarian penolakan.
Barangkali ada bagian yang tak bisa kita paksakan. 
Mungkin ada sudut yang tak mungkin kita sentuh.

Mungkin cinta hanya ilusi sekian menit dari hati yang kebetulan kosong. Lalu kita hanya cukup menepisnya dan kembali sibuk menekuri layar laptop, membalas email para Ibu borju penagih Design.

Mungkin rindu hanya efek dari cuaca dingin dan tubuh yang tiba tiba ambruk. Lalu kita meminta bahu untuk bersandar sejenak dan berkisah tentang penat.

Mungkin patah hati hanya bagian kecil dari rasa sakit yang tidak ada apa apanya. Kita hanya perlu memaksakan diri menjemput mimpi mimpi kita yang lain. Memaksakan diri untuk bergerak maju, mengabaikannya seperti mengabaikan rasa kantuk demi buku buku yang harus segera dituntaskan. 

Mungkin, perasaan apapun itu, seperti hati yang tiba tiba menggemakan nama seseorang. Hingga seperti ingin terus hadir, bahkan tak membiarkan kita tenang bahkan dalam mimpi milik kita sendiri, Mungkin, hanya perlu kita lupakan, seperti rasa lapar yang terpaksa harus kita tahan.

Baiknya, kita hanya tak perlu memikirkan apapun. Seperti membiarkan noda susu coklat di kerah kemeja, dan kita tak sempat membersihkannya. Banyak hal lebih penting yag harus segera di tuntaskan. 

Komentar

Postingan Populer