N UM B

Selepas Hujan

Apalagi alasan yang membuat seseorang menunggu?

Rasa suka.

Tadi siang, selepas hujan, dengan ringan kami membicarakan romansa masa sma.

Saat kami masih sama-sama cupu (meski sekarang masih sama cupunya), saat mengenakan seragam putih-abu abu menjadi semacam simbol masa masa manis yang tidak ingin kita tinggalkan. Saat cewe dan cowo populer menjadi raja dan ratu, sementara kami hanya bisa berdoa agar suatu saat diberi kesempatan melalui sedikit waktu bersama mereka.


"Liat tanah basah gini, aku jadi inget seseorang. 
Waktu itu, untuk pertamakalinya kita sepayung berdua."

Dari kaca spion, aku melirik laki laki di hadapanku tersenyum.

Aku tertawa keras, tak mengira kata-kata beraroma flashback keluar dari mulut seorang yang kukenal sudah tidak mengenali rasa apapun. Mati rasa, istilahnya.

Aku tertawa, mengejek.

'Kan. Apa ku bilang, Se mati rasa apapun aku dan dia, kami masih sama sama menyimpan kenangan untuk seseorang yang keberadaannya saja kami tak tahu. Atau mungkin, seorang yang kami ingat sekarang sudah berada di pusaranya sekarang. Beristirahat dengan tenang.

Hujan. 

Shit! Aku diam diam mengutuk dalam hati. Pluviophile seperti aku tak akan bisa lari dari kenangan tentang hujan.

Aku mennghirup aroma tanah basah dalam dalam, menutup mata. Samar bayangan laki laki berkelebat, ada bulir tetes air menetes dari ujung mataku yang terpejam. Entah itu air hujan, atau keangkuhanku tak lagi mau mengakui bahwa aku masih bisa menangis.


Komentar

Postingan Populer