N U M B
Wajahnya bulat dengan senyum khas mengembang yang sudut bibir nya mengerucut manis. Janggut panjang dengan rambt ikal yang gondrong. Kupluk berwarna pastel dengan kaus berkerah berwarna senada. Celana ngatung yang selalu dipakainya pada kesempatan apapun.
Aku memandangi foto Mas Ardhian agak lama. Menimbang baik buruk menerima lamaran seorang yang semili pun aku tak pernah merasa merindukannya.
Jatuh cinta? Lagi??
Aku menggeleng keras. Seperti mengusir sesuatu yang mengganggu di kepala.
Tidak! Aku menyelipkan foto close up tersebut di selipan buku jurnal dan meletakkan buku itu jauh jauh di pojokkan rak buku. Ku banting tubuhku sendiri di atas kasur, menghempas semua keindahan semu yang ditawarkan sang pangeran berkuda putih.
Seluruh tubuhku terasa sakit, ambruk.
Kelebatan wajah mas Ardhian melingkarkan cincin di jari manisku kembali terbayang. Aku mengusirnya lagi. Ku paksa mataku terpejam.
Dalam gelap katup mata yang kupaksa tertutup, bayangan wajah mas Ardhian dengan buket mawar putih menjauh, mengecil, dan hilang. Samar, suara berat Mas Ardhian memanggil nama kecilku terdengar.


Komentar
Posting Komentar