N U M B 

Perasaanku kosong ketika karateka berusia 32 tahun itu menyentuh ujung jariku yang kedinginan. Tak ada perasaan apapun di sana. Kosong. Aku tak semili pun merasa butuh untuk terus dekat dengan seorang yang akhir akhir ini mulai lelah menagih kepastianku.

Aku menepis halus lengan kekarnya. Aku berakting ngantuk, memintanya pulang.

Yang diberi kode makin mengeratkan genggamannya. Seluruh jemari ku di rengkuhnya. Pandangan matanya menyapu lantai. Kosong.

'Sampe kapan, Dek?"

Aku tersenyum kecut. Menggeleng.

"Ayolaah ... Adek udah lelah, Bang. Capek. Abang pulang aja, ya. Aku lagi gak bisa mikir apa apa."

Aku genggam bahu kekarnya, menuntunnya ke pintu keluar.

Laki laki yang kusebut abang, membalik badannya. Mencium keningku agak kasar.

"Ya udah.Abang pulang. Kamu istirahatlah. "

Langkah panjang Abang menimbulkan derit pendek pendek menuruni tangga, kemudian terdengar suara motornya meninggalkan parkiran.

Aku mengintip dari sela jendela, bernafas lega.

"Two months leaving apart, I don't even miss him."

Pandangan mataku beralih pada pigura kembar di pojok ruangan. Sepasang senyum mengembang menghias foto yang pada sisinya sedikit retak. Aku memandangnya nanar.







Komentar

Postingan Populer