Almost writer loves rain.
Tapi statement ini gak ngebatesin kalau yang suka hujan cuma para penulis saja. Atau para pujangga yang suka menatap hujan dari sisi jendela dengan kepulan minuman hangat favorit mereka: coffee, mint tea, atau segelas besar coklat hangat. Mungkin cuma saya yang suka nikmatih hujan dengan segels besar es kopi yang ekstra dingin.
Hampir semua orang suka hujan.
Seperti ada sebuah kesepakatan tidak tertulis kalau hujan bisa memanggil kerinduan, membawa si empunya memori ke dalam satu dua kenangan yang entah manis, atau justru, perih. Dan kalaupun memori yang muncul di kepala pas hujan turun adalah kenangan pahit tentang sesuatu, hujan membawa kita meresap kepahitan itu dengan cara yang damai.
Saya sangat suka hujan!
The voice of raindrops
Saat suara hujan menghentak dari luar jendela, the first thing to do is turning off the music. Ungkapan seorang pujangga yang mengatakan bahwa suara hujan mengalahkan segala jenis musik apapun, mungkin ada benarnya. Pasalnya, pecinta musik seperti saya lebih memilih nge stop playlist yang seharian saya putar berulangulang, yang dasarnya benerbener gak bisa ngapangapain tanpa ada musik, dan lebih milih dengerin suara hujan.
Inspirations come through raindrops.
Ini bukan isapan jempol kalo hujan bisa manggil inspirasi. Secara alamiah, banyak orang yang nemuin ide pas hujan turun, atau nemuin hal makin jelas kebayang di otak ketika sehari hari bayangan akan hal tersebut keliatan blur. Ya, hujan seperti menyapu bersih hal hal yang nutupin pintu hati.Entahlah, saya gak bisa jelasin teori khusus mengapa hujan kayaknya punya power buat nge transfer kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang fresh. Entah karena suara hujan yang bikin suasana hati jadi lebih damai, atau karena suhu dinginnya yang bikin nyaman. Untuk hal ini mungkin kita bisa samasama cari tahu.




Komentar
Posting Komentar