RAHASIA NANA
Banyak hal yang disembunyikan dalam diri Nana dari mama', oragtua satu-satunya yang tertinggal. Mama' hanya menerka dari isak tangis yang meledak setiapkali berdoa, basah sajadah yang digunakan Nana setiapkali selesai sholat, pandangan mata Nana yang nanar ketika duduk-duduk di teras rumah yang atapnya terbuka, igauan Nana dalam durasi tidurnya yang singkat, sorot mata Nana yang tidak pernah secara lurus berani menatap wajah mama' setiapk kali perempuan berumur 50 tahun itu bertanya apa yang terjadi. Nana, gadis berusia 26 tahun seperti selamanya menjadi misteri untuk ibu kandungnya sendiri.
Suatu malam, Nana memeluk mama' dari belakang. Nana menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya cegukan putus putus yang terdengar dan bahunya yang berguncang di pelukan mama'. Mama' hanya ikut menangis, membalas pelukan Nana, dan mengatakan semua akan baik-baik saja tanpa pernah tahu apa yang sedang dialami oleh anak perempuan kedua yang dilahirkannya itu.
Nana bungkam untuk semua hal tidak enak yang dialaminya selama di luar rumah, bungkam untuk semua kesedihannya. Tapi Nana yang dikenal Mama' tetaplah perempuan dewasa yang ceria. Nana' di rumah selalu bisa menghidupkan suasana, melontarkan gurauan garing, menceritakan humor konyol dengan gerakan tangan yang ekspresif. Tapi untuk kehidupan pribadinya, Nana seperti tak pernah hadir ketika jam-jam di mana sesi diskusi di rumah berlangsung.
Melihat diri Nana ketika terpekur di depan layar lapotop, mama' seperti melihat pantulan mendiang suaminya, ayah kandung Nana, ketika ayah Nana serius menulis baris-baris kata pada buku jurnal pribadinya sama persis ketika Nana mengetik baris demi baris kata di layar laptop, Nana dan Ayahnya melakukan hal yang sama, sendirian mengunci diri untuk banyak hal yang tak mungkin dibagi bahkan oleh belahan jiwanya sendiri.
Mama' sering melihat Nana ketika kecil dan ayanya berdialog di di depan rumah. jari jemari Nana yang masih sangat kecil digerakan oleh ayahnya di langit-langit, seakan jari-jemari mereka menyentuh secara langsung bintang-bintang yang saat itu belum kalah cahanya oleh cahaya lampu-lampu malam kota. mereka sesekali tersenyum bahkan tertawa. mata mereka memincing dan melebar, menatap lurus langit malam yang sangat luas. Mereka seperti memiliki dunia yang tak bisa mama' sentuh.
'Na, hari minggu pulang ya.'
Nana mengangkat kepalanya, mengernyitkan kening, lalu kemballi sibuk mengikat tali sepatunya.
sambil tersenyum jail nana membuka pintu dan berkata sebelum akhirnya berlalalu.
"Iya ma, kalo mama janji buatin nasi goreng yang tadi lagi. Bye ..... Assalamualaikum.."



Komentar
Posting Komentar