'Apakah ada oranglain atau sesuatu yang menyakitmu?'
'Jawabannya tidak, kita sendiri yang menyakiti diri kita sendiri.'

Sebagai orang yang tingkat sensitivitas nya melebihi batas kenormalan umat manusia pada umumnya (maaf saya menggunakan kata-kata lebay di sini, biarkan saya menunjukan eksistensi saya sebagai orang lebay yang ingin diakui eksistensinya ... Hehehe), saya seringkali disulitkan oleh beragam ekspresi orang-orang yang saya temui, kata-kata yang mereka lontarkan ,dan bahasa tubuh yang secara sadar tidak sadar mereka tunjukkan. Saya mencari makna lain dari kata-kata yang terucap, memikirkannya dengan keras, meruntutkan kejadian-kejadian yang mungkin berhubungan, ,mendefinisikan makna kata tanpa melihat situasi orang yang melontarkan kata tersebut. 

Saya bisa 10 menit baper, ketika menjumpai sedikit kerutan di wajah orantua saya sebelum saya berangkat kerja, 2 sampai 3 hari down ketika melihat ujung bibir sahabat-sahabat dekat saya sedikit dikerucutkan ke bawah, bermingu-minggu merasa bersalah ketika melihat lawan bicara tak mau melihat mata saya, berjam-jam low self-esteem ketika nada suara orang yang saya percaya sedikit merendahkan saya.

Sangat menyulitkan, dan sepertinya Tuhan terus menguji saya pada titik kelemahan saya yang satu ini. Saya dihadapkan oleh orang-orang yang menurut saya tidak bisa mengolah katanya dengan baik, sehingga saya harus lebih keras bersabar dibanding kebanyakan orang agar bisa 'bertahan hidup', saya dihadapkan oleh orang-orang yang memiliki banyak wajah sesuai situasi dan orang yang dihadapi, sehingga saya harus memepredikisi wajah asli dari orang-orang tersebut. dan kebanyakan usaha saya gagal untuk memahaminya.

Alhasil, saya sering terluka oleh kata-kata yang belum tentu maksudnya seperti yang saya pikirkan, ekspresi orang-orang yang belum tentu ditunjukan untuk saya, dan bahasa tubuh yang belum tentu seperti yang saya terjemahkan. Saya terluka oleh pikiran saya sendiri. 

Setiapkali oranglain menegur warna asli saya sebagai orang yang kelewat sensitif, saya akan ngeles dengan mengatakan kalau saya memang begini dan sesunggugnya saya tidak ingin terus bergini serta saya sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak kelewat 'over-thinking'. Tapi sepertinya saya hanya sedang berlari dari ketidakmampuan saya mengontrol pikiran saya yang lebih banyak melibatkan perasaan dibanding logika, atau mungkin ukuran otak saya tak lebih besar dibanding ukuran biji salak dan hati saya lebih besar dibanding ukuran bola basket? (ini bukan berarti saya mengatakan saya memiliki hati yang lapang karena ukuran hati yang lebih besar dibanding otak ya. Hahahaha :D) 

Well ... Yeah ..... mungkin Tuhan sedang menguji saya sebelum saya naik level menjadi orang yang lebih baik dalam ukuran orang sabar. Seperti guru yang tidak akan menguji seorang anak SD dengan ujian ukuran anak SMA. Tuhan hanya menguji kita lewat kelemahan-kelemahan kita, hal-hal yang belum kita taklukan, ketakutan-ketakutan yang belum bisa kita hadapi, dan rintangan-rintangan yang selama ini kita gagal menghadapinya. Untuk apa Tuhan menguji hal yang sudah kita kuasai?  (Bukan ujian dong namanya, tapi PM atau Pedalaman materi yang biasa dikerjain siswa menjelang UN. Aahahaha)

Seperti kata Tere Liye, "Seluruh air di samudra lautan tidak bisa menenggelamkan sebuah perahu kecil, jik airnya tidak masuk ke dalam perahu tersebut. Maka seluruh kesedihan, kegundahan, beban hidup di dunia ini tidak bisa menenggelamkan hati kita, kecuali kita membiarkannya masuk ke dalam hati kita sendiri." 

Saya tidak akan terluka dan dan terbebani jka saya memiliki daya kontrol canggih terhadap pola pikir dan perasaan saya sendiri, Semacam filter yang menyaring mana yang boleh masuk dan mana yang tidak, Saya harus belajar lebih banyak untuk sedikit lebih cuek, karena rasanya akan sangat gelap sekali jika saya menelan bulat-bulat apa kata orang, sedikit lebih logis, karena rasanya saya tidak menemukan jawaban ketika berpikir kelewat batas. ekstra sabar, karena rasanya berpikir secara emosional hanya akan menyerap emosi negatif dari oranglain dan menghancurkan hari baik yang sduah Tuhan beri. 


'Apakah ada oranglain atau sesuatu yang menyakitmu?'
'Jawabannya tidak, kita sendiri yang menyakiti diri kita sendiri.'

Ya, saya sendiri yang membuat diri saya terluka.

Komentar

Postingan Populer