“Ketika aku  hidup, selama kau hidup. kamu akan melihat hal-hal yang tragis, dan tidak ada yang bersalah karena itu. Yang bisa kita lakukan hanyalah, mencari sesuatu yang membuat kita tetap berjalan. Bagiku, hal itu adalah kalian. Karena kalian aku bisa sampai sejauh ini.”

Nanae Fukuzawa_Dear Sister

Masing-masing kita memiliki alasan untuk berjuang, untuk tetap hidup. Bergerak, ke depan. Kebanyakan orang menjadikan mimpi sebagai penguat yang membuatnya tetap maju, sebagian yang lain menjadikan keberadaan orang-orang yang disayangnya untuk melangkah, bertahan. Bahkan, beberapa, menempatkan posisi oranglain-orang yang sama sekali asing- di tingkat paling atas hatinya. Sebagai penguat, alasan, pendorong, bahkan nyawa, udara yang membuatnya merasakan hidup.


Tapi bagaimana jika seorang yang menjadi alasan mu untuk berjuang pergi untuk alasan paling logis?

Alasan yang membuatmu tak mungkin mencegahnya pergi lebih jauh. Dia tetap pergi, membawa pergi kepingan yang selama ini melengkapi langkahmu menjangkau definisi perjuangan paling hebat; ketika perjuangan dan kebahagiaan berjalan beriringan. Kau tak kenal peluh seperti apa yang mampu menjatuhkanmu. Yang kau tahu kau berhak berjuang, sejauh kau berhak bahagia dalam kadar yang sama rata.

“Be happy for no reason, like a child. If you’re happy for a reason, you’re in trouble, because that reason can be taken from you.” anonymous

Ketika kau menggantungkan semua mimpimu pada bahu seseorang,
Ketika dia pergi,
Ketika itu juga dia membawa lari semua alasan hidup yang kau agung-agungkan.
Membawa pergi alasanmu untuk berjuang
Kau berhenti…

Kehilangan seseorang bisa membuatmu kalah, jatuh, kehilangan arah, bahkan sulit untuk bangkit. Rasanya ingin sekali memejamkan mata, dan berharap tak bangun lagi. Tapi pagi terlalu kejam, matahari terbit terlalu cepat. Tau-tau saja kau sudah harus bangun lagi. menjalani kehidupan normal seperti biasanya, menjalani aktifitas yang didalamnya banyak melibatkan orang-orang yang mulai kau rasakan begitu menyebalkan.

Morning! 
The morning has arrived, with a heavy downpour. 
Tick-tack. 
Someone please rewind my spring for me.

Kesibukan yang mulai terasa kosong. Tanpa makna. Jam hanya berdetak, matahari terbit dan tenggelam, tapi kau masih saja di tempat yang sama. Dengan satu album lagu-lagu sedih yang terus kau putar berulang-ulang.

Kau tahu itu salah, kekananakan, hal-hal bodoh yang sudah sangat lama sekali kau tinggalkan, barang-barang lama yang sudah tak perlu lagi kau sentuh dalam usiamu yang sekarang.

Tapi, kapanpun, manusia akan kembali pada titik tersebut. Titik di mana kau merasa begitu lemah, lelah dengan semua nya. Muak dengan masing-masing penafsiran -jawaban yang katanya butuh kejujuran- tapi memukul telak dalam sekali pukul saja ketika yang mereka butuhkan akhirnya mereka temukan, dalam bentuk yang sama sekali tak mereka inginkan.

Kau diombang-ambing, oleh harapan untuk tetap ‘hidup’, penerimaan, keinginan untuk memafkan tapi ego-mu terlalu angkuh untuk mengakui semuanya.

Yang kau rasakan hanya hampa, kau mulai tak tahu, di mana luka itu mulai menjalar, melebar, ke tempat yang tak seharusnya. Luka itu bukannya mengering, malah semakin melahap habis kedamaian hati yang justru sedang kau cari-cari.

Kau bagkit, tapi jatuh dengan amat mudahnya. Seperti mencoba mengakkan sebuah kapas, yang kau lihat malah begitu banyaknya ketidakmungkinan. Pertahanan mu dengan mudahnya digerogoti oleh hal-hal kecil, hal-hal yang selama ini bisa kamu atasi.

"Oh well whatever" has become my favorite phrase. 
That line from yesterday went straight over my head: 
"I don't have any expectations of you anymore." 
Well, even I myself 
don't have any expectations of myself, 
but still, what was THAT for?!



Yang kau lakukan hanya mengutuk, menyalahkan orang-orang yang kau anggap sudah mengobrak-abrik semuanya. Kau mulai tak peduli, masa bodoh, dengan apa yang sudah kau lakukan, mengabaikan hal-hal yang mungkin akan terjadi setelah ini. Kepalamu kosong. Mempercayai apa yang selama ini kau percayai saja kamu tak mampu.

I'm suffering because I can no longer breathe. 
I now have a small urge to listen to someone's voice. 
I am so weak.



Jakarta, 28 Maret 2015

Komentar

Postingan Populer