Kehilangan itu seperti
melihat seseorang yang kita sayang meninggal dunia.
Seseorang pergi, entah
dalam keadaan hidup atau tidak, pergi ya tetap saja pergi.
Entah pergi untuk
menemui Rabb-nya, atau pergi menemui
seseorang yang memilikinya.
Hakikatnya, sama.
Seseorang pergi, sesungguhnya
dia kembali.
Ada perasaan kosong
yang tertinggal, karena sebelumya ada yang mengisi di sana.
Seperti sebuah etalase
di mana kau letakkan sebuah benda yang indah, kalung misalkan.
Kalung itu hilang.
Kau memandanginya
dengan perasaan yang campur aduk.
Sedih, pasti.
Perasaan ingin
mengikhlaskan, tapi kau tak tahu ukuran ikhlas seperti apa.
Ingin menerima, bahwa
kalung itu memang sudah tak lagi ada di tempat biasanya,
Tapi kau masih
berharap, mungkin kalung itu kau temukan di suatu tempat.
Kau memandanginya,
sampai permukaan di etalase itu berdebu.
Kau mulai berfikir
bagaimana mencari penggantinya.
Tapi tak ada satu pun
keindahan yang persis sama
Kehilangan,
bagaimanapun bentuknya, selalu menyakitkan.
Dengan melihat
seseorang yang kamu cintai, dibopong orang-orang dalam keadaan kaku dan
mendingin.
Menyadari orang yang
selama ini ada di sampingmu berada dalam sebuah keranda, atau .. peti mati.
Kau melihat dengan
penerimaan yang hebat,
kau mampu berdiri
tegak, kuat dengan senyum yang menghias.
Kau tak peduli seberapa
banyak airmata tumpah sementara kau lihat keranda yang menjauh,
kecil … dan menghilang
dalam kerumunan orang-orang.
Saat itu kamu pikir
kamu kuat,
Tidak
Kamu hanya belum
menyadari arti kehilangan yang sebenarnya
Kehilangan,
bagaimanapun bentuknya bukan perasaan yang mengenakan
Bukan bagian atau
turunan dari perasaan bahagia seperti perasaan senang dan lega
Melihat punggung
seseorang melangkah menjauh dan kau hanya bisa memandanginya karena memang di sanalah
seharusnya dia tetap tinggal
Kau tak mampu mencegah
Menjerit pun kau tahu
tak akan ada gunanya
Kau tersenyum
Melambaikan tangan
dengan perasaan yang ringan,
Seperti mengucapkan
salam pada seorang teman yang besok akan kau temui dengan keadaan yang sama
esok harinya,
‘Sampai jumpa besok.’
Saat itu kamu pikir
kamu kuat
Tidak
Hal yang sesungguhnya
hilang belum benar-benar kau rasakan
Kehilangan itu adalah,
Ketika kau menyadari
hal-hal yang biasanya kau lihat,
tak ada di tempatnya
Hal-hal yang selalu kau
dengar, tak mungkin lagi kau dengar
Hal-hal yang selama ini
kau tunggu, menjadi hal yang tak mungkin menjumpaimu
Hal-hal yang selama ini
ada di tempatnya, tak kau temukan bayangannya.
Hari-hari terberat
setelah perpisahan di mulai
Hilang, lenyap, dan ..
kosong.
Kau eja kata itu tiap
malam
Bertemankan dengan
sepi,
Padahal kau tahu gelap
hanya membawamu pada luka yang lebih dalam
Mengundang airmata yang
kau pikir sudah selesai dari awal
Menyambung cerita
seperti tak ingin mengakhiri luka
Kadang kau menolak,
takdir
Tak melihat bayanganya
di pagi hari,
Kemudian kau katakan
pada dirimu bahwa dia hanya pergi untuk sementara waktu.
‘Nanti sore dia akan
kembali,
Seperti biasa.
Mengucapkan salam,
Mengecup keningku,
Dan meminta segelas teh
tawar hangat,
Berbaring untuk rehat,
Lalu malam menjadi
malam panjang berbagi kisah,
“Hari ini apa saja yang
sudah terjadi?” , tanyanya
Lalu aku menjawab,
:”Hebat ayah. Hari-hari
di sekolah selalu menjadi hari yang begitu menyenangkan.”
Aku tersenyum,
Dan dia membalasnya
dengan anggukan dan mengayunkan lengan kekarnya di kepalaku, mengelus
rambut-rambut kecil di keningku, tersenyum hangat.
Tapi matahari terbenam,
dan langit sudh menggores cahaya kemerehan
Ketika senja, dia tak
juga kembali,
Lagi-lagi kau menolak,
‘Sebentar lagi. Tunggu
sebentar lagi. Dia pasti kembali.’
Tapi matahari sudah
benar-benar tergelincir,
Digantikan oleh sang
rembulan yang bergantung di langit-langit Tuhan
Di tak juga kembali,
Sampai kau tertidur
dalam sebuah penantian
Kau tiba-tiba terbangun
di tengah malam
Terisak,
Kau baru menyadari,
Seseorang itu sudah
benar-benar pergi.
Jakarta, 13 April 2015



Komentar
Posting Komentar