BIPOLAR
DISORDER (Sebuah Pengakuan)
Euforia
Aku seringkali mengalami euphoria; mengalami kebahagiaan dan
energi yang sangat berlebihan, antusias yang meletup-letup, mood yang berada di
puncaknya. Pada saat mengalaminya, semua daftar kegiatan positif rasanya tak
cukup dilakukan hanya dalam waktu 24 jam saja. Aku melakukan banyak prestasi
yang terbilang hebat, karya-karya yang indah, pekerjaan-pekerjaan yang sangat
produktif.
Pada saat itu aku merasa sangat
optimis dalam menjalani hidup, beranggapan masa depan yang aku miliki akan
sangat cerah sekali, aku merasa aku mampu melakukan apapun yang ingin aku
lakukan.
Aku merasa tak butuh istirahat.
Aku bahkan mampu menghabiskan waktu berjam-jam dalam bekerja dan berkarya meski
sudah melewati jam istirahat atau jam tidur.
Mimpi-mimpi berkejaran di
kepalaku, aku mampu membuat daftar mimpi-mimpi tersebut kemudian secara
bersamaan melakukan banyak kegiatan yang akan membawaku menggapai semua itu.
Dalam sehari berada pada masa euphoria, aku menghabiskan banyak waktu
untuk membaca buku-buku bagus, menemui orang-orang yang sangat ingin aku
temui, melakukan daftar-daftar target harian, melakukan semua pekerjaan dan
tanggung jawab dengan sangat baik sekali.
Aku banyak dipuji akan semua
kegigihanku, ketekunanku, dan rasa antusias dalam bekerja dan belajar. Aku
melakukan banyak prestasi yang membuat orang-orang di sekitarku bangga, salut,
dan kagum.
Aku terus tersenyum, dan tertawa;
menyapa semua orang yang aku temui dengan sangat ramah sekali. Aku sangat
percaya diri ketika berinteraksi dengan setiap orang yang aku jumpai; bicara
tentang mimpi dan hobi. Itu tak membuatku kehabisan kata-kata. Aku bicara
panjang lebar tanpa jeda, tanpa istirahat. Mereka menyukai gayaku berbicara,
topik-topik yang aku tuangkan, gagasan-gagasan yang menarik. Aku seperti
seorang yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik bahasa tubuh yang
sangat ‘hidup’, serta gerakan mata menunjukkan rasa antusiasme yang sangat
tinggi.
Aku bisa menjadi pendengar yang
baik, mendengarkan orang bicara tentang kehidupan mereka, hobi mereka, bahkan ikatan intim
mereka dengan orang-orang terdekat mereka. Hampir semua orang suka dengan
kondisi nyaman yang kuciptakan saat itu.
Pada masa euphoria, aku berada pada lingkaran orang-orang yang menyanjungku;
“Kamu
tak hanya menarik. Kamu juga ramah. Aku begitu mneyukaimu.”
“Kamu
seorang pekerja yang gigih, guru yang menyenangkan dan begitu mencintai dunia
mengajar. Anak-anak menyukaimu. Kami membutuhkan orang-orang sepertimu.”
“Hei,
kau hebat. Kau memiliki selera humor yang sangat baik.Mereka begitu menyukaimu.
Aku ingin sepertimu.”
“Di
antara yang lain, kamu yang paling menunjukkan kesungguhan. Kami percaya orang
sepertimu”
Semua orang berada pada lingkaran yang tidak sengaja aku ciptakan pada masa-masa
euphoria. Aku tak hanya terasa
menyenangkan bagi diriku, aku juga begitu menyenangkan untuk oranglain.
Depresi
dan Insomnia
Depresi adalah masa-masa yang
sangat menekanku. Aku ketakutan oleh hal-hal kecil yang belum tentu terjadi.
Aku cemas berlebihan oleh kegagalan-kegagalan yang sepele. Jiwaku menuntut
kesempurnaan tanpa aku bisa mendefinisikan kesempurnaan bagaimana yang sesungguhnya
aku harapkan. Aku terkurung dalam kesendirian, kesepian, dan kegelapan. Aku
merasa tak memiliki seorang teman berbagi. Aku sulit sekali memejamkan mata
meski mata sudah sangat kelelahan dan tubuhku merajuk untuk minta
diistirahatkan. Tapi aku sama sekali tak bisa rileks. Aku tak bisa memejamkan
mata. Yang tebayang ketika malam hanya kegagalan-kegagalan kehilangan,
kehancuran, keterpurukan, ketakutan menghadapi hari esok, ketidakpercayaan
terhadap siapapun. Aku merasa tidak berguna. Aku merasa tak memiliki apapun.
Kemudian, ketika aku pada akhirnya tertidur, terkadang aku terbangun dan terisak
karena ketika terbangun tanpa sengaja pun yang pertama kali teringat hanyalah
kesedihan-kesedihan. Aku kembali tidur, mengganti posisi. Tapi aku tak bisa
kembali memejamkan mata, hingga jam menunjukkan pukul 5 pagi. aku baru bisa
tertidur lagi ketika matahari sudah sangat tinggi. Jam tidurku benar-benar
berantakan.
Orang-orang sebut aku berlebihan.
‘Hei belajarlah bersikap biasa.’.
yang mereka tahu aku selalu melebih-lebihkan masalah. Mengagap masalah kecil
sebagai masalah yang sangat besar. Mereka bilang, aku hanya tidak tahu caranya
merespon masalah dengan sikap lebih baik, lebih lapang. Mereka bilang aku hanya
belum dewasa. Mereka bilang aku hanya memiliki persepsi yang berlebihan
terhadap masalah-masalah yang terjadi. Mereka bilang, aku dramatis. Aku hanya
melebih-lebihkan cerita-cerita yang sederhana menjadi serupa dengan
sinetron-sinetron. Mereka bilang aku hanya lemah dan tak kuat berjuang.
Orang-orang bilang aku hanya
menyalahkan keadaan, pengecut, lari dari masalah cemen, berhati kerdil dan norak.
Pergantian suasana
hati yang ekstrem
Masa-masa depresi bisa tiba-tiba
muncul setelah tak lama aku berada pada masa euphoria. Jika masa euphoria
kurasakan sejak bangun tidur sampai sekitar pukul dua siang, selanjutnya sampai
menjelang waktu tidur aku bisa dihantui ketakutan, kecemasan, kesedihan, dan
kekelaman yang begitu menekan. Atau sebaliknya, aku bisa terbangun dari tidur
dengan begitu lemas dan sangat tidak bergairah menjalani (tak jarang aku
mangkir dari tugas dan tanggung jawab studi dan pekerjaan karena perasaan takut
menghadapi hari itu) kemudian pada siang hari aku merasa di puncak semangat, di
mataku akan terlihat begitu banyak kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan
banyak ide-ide hebat yang berkejaran di otakku.
Dan jika euphoria kurasakan di malam hari, aku tak akan rela membuang
waktuku untuk bersitirahat. Aku akan memaksakan diriku utuk terjaga di malam
hari untuk belajar dan berkarya. Akhirnya tubuhku akan secara otomatis mencari
makanan atau minuman yang bisa mengusir rasa kantuk. Hal ini membuat isi
lemariku penuh dengan kopi berbagai macam merek dan rasa. Dalam pesepsiku, kopi
tak hanya bisa mengusir rasa kantukku dengan instan, tapi juga bisa mengangkat
kelelahanku untuk terus bergerak. Akhirnya, aku bisa terjaga sampai pukul dua
atau tiga pagi sampai akhirnya aku tertidur dengan ide yang masih berlompatan
yang tak sabar untuk aku eksplor. Aku tidur dengan membawa banyak mimpi yang
ingin aku wujudkan dalam waktu dekat. Siapa sangka, ketika bangun aku merasa
begitu kelelahan dan tak mampu membuka mata sampai hampir menjelang pukul 12
siang. Siapa sangka, ketika bangun, aku kembali bergumul dengan depresi.
Chocolate
craving
Akhir-akhir ini aku tahu bahwa
tubuh secara hormonal akan mencari sesuatu, makanan yang di dalamnya mengandung
zat yang dibutuhkan. Hampir setiap sore dan malam, bahkan tak jarang pagi-pagi
sekali, aku begitu menginginkan coklat. Memakannya dengan lahap, merasakan
lelehan coklat di dalam lidah dan merasakan kelembutannya. Aku selalu merasa
begitu ingin tiba-tiba membeli berkantong-kantong coklat dengan berbagai macam
merk. Kemudian menyimpannya dalam lemari buku. Aku akan membuka bungkusnya dan
memakannya setiapkali menginginkannya, tanpa kenal waktu, tanpa kenal jam. Tak
jarang aku memakan satu batang coklat dengan ukuran yang cukup besar sendirian
di tengah malam.
Saat itu aku tak tahu, bahwa
kecendrungan terhadap coklat merupakan reaksi tubuh dalam mencari zat yang bisa
mengangkat mood, mengurangi kesedihan
dan sedikit merasakan relaksasi dari zat-zat yang terkandung dalam coklat
tersebut. Seperti ketika kita merasa lapar, tubuh kita akan secara otomatis
mencari makanan yang mengandung zat karboridrat atau protein yang tinggi untuk
mengurangi rasa lapar tersebut.
Setelah kupikir, aku menginginkan
coklat setiap kali merasakan kecewa dengan diri sendiri atau seseorang,
kelelahan dengan pekerjaanku yang tidak sempurna, stress dan tekanan yang
datang dari dalam dan luar, dan ketidakmampuanku dalam mengontrol kesedihan.
Kehilangan
Minat yang dulu ditekuni
Aku kehilangan banyak minat;
hal-hal yang dulu begitu mneyita waktuku karena kecintaanku yang teramat sangat
pada minat-minat tersebut. Aku suka menggambar, menulis, membaca, dan belajar.
Aku memiliki waktu-waktu khusus untuk melakukan semua kegiatan yang kuanggap
menyenangkan itu. aku merasa tak kenal lelah. Aku merasa begitu sempurna ketika
memegang pensil dan menggoresnya dengan sangat antusias, membentuk pola yang
sangat hidup. aku tak pernah peduli apakah orang-orang akan menyukainya atau
tidak. Yang aku tahu saat itu adalah saat-saat yang begitu hidup, saat-saat
yang begitu membahagiakanku, saat-saat di mana aku mampu menjadi diriku. Bangga
dengan apa kulakukan.
Aku suka membaca banyak buku;
mulai dari komik yang ringan, novel, sampai buku-buku islam. Aku selalu membawa
buku untuk aku baca di perjalanan. Jarak tempuh yang cukup jaauh dari rumah ke
kampus, membuatku tak segan mebawa satu sampai dua buku untuk aku habiskan di
dalam bus atau angkutan umum. Kegemaranku membaca buku membuatu tak mudah stres menghadapi macet di di Jakarta yang
terjadi hampir setiap pagi dan sore. Aku begitu menikmati waktu-waktu membaca;
menemukan kosa-kata baru yang menarik, menyelami pemikiran penulis-penulisnya,
mencatat kutipan-kutipan yang begitu inspiratif, dan jika itu adalah komik, aku
bisa berlama-lama mengamati satu halaman komik untuk kupelajari gaya
menggambarnya. Saat itu aku merasa begitu antusias, hidup dalam tiap baris
kata.
Aku sangat suka menulis, bagiku
menulis adalah sebuah terapi paling ampuh bagis seorang introvert sepertiku.
Aku suka menulis buku harian (aku mencatat hampir setiap kejadian kecil di
dalamnya, sampai hal paling tidak penting sekalipun). Aku suka menulis puisi,
membuat kata-kata inovatis di jejaring sosial. Kosa-kata di kepalaku seperti
saling mendesak untuk keluar. Aku membawa buku harianku ke mana-mana. Buku
harian bagiku seperti seorang sahabat. Bagiku, dia tak perlu merespon, memberi
jalan keluar atau sekedar menaasehatiku dengan kata-kata yang bijak. Dia cukup
di sana. Mendengarkan ku. Tentang kejadian apa yang baru saja aku alami dalam
satu hari penuh. Ketika di perjalanan, ketika menunggu angkutan umum di
halte-halte, aku masih tetap menulis. Aku mengumpulkan banyak kata-kata yang
,mengisnpirasiku di dalam note handphone. Aku menulis puisi selama di
perjalanan ketika mataku lelah, jenuh dan bosan menekuri baris kata di buku
buku yag aku bawa. Aku hidup! Begitu hidup! Sampai aku tak peduli, apakah aku
akan dibilang sok atau anggapan oranglain tentang keanehanku menekuni hobi di
jalan-jalan yang dipenuhi oleh orang yang lalu lalang.
Aku juga membawa buku sketsa, ke
manapun. Aku bisa menggambar situasi di halte-halte, di ruang tunggu rumah
sakit, di depan kantor jurusan, di tangga-tangga kampus, di
kelas ketika kuliah sedang berlangsung, aku begitu menikmati life drawing,
menggambar objek hidup yang saat itu bergerak di depan mataku, menggambar
pemandangan orang yang berseliweran di jalan, menggambar ekpresi dosen-dosen
ketika mengajar, ataupun sekedar menyelesaikan gambar yang setengah jadi;
mewarnainya degan pensil warna atau sekedar mengarsirnya agar tampak lebih
hidup dan bernyawa. Orang bilang aku autis, subuk dalam duniaku sendiri. Tapi aku tahu, seorang yang
autis akan lebih bahagia menggantungkan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri,.
Dia tak butuh oranglain untuk menyalurkan kebagiaanya, dengan menggambar; aku
temukan diriku tersenyum tanpa membutuhkan seseorang untuk membalas senyumku.
Aku begitu bahagia!
Aku sangat suka membaca, menulis,
dan menggambar. Begitu kecintaan ku terhadap hal tersebut, tas ku selau
penuh oleh buku-buku di luar buku materi kuliah. Tasku sesak oleh beberapa komik yang kupinjam di rental di depan kampus, buku-buku dan novel yang kupinjam
dari beberapa teman, dan buku sktesa ukuran kecil.
Sampai, aku tak tahu sejak kapan;
aku kehilangan minat atas itu semua. Aku mulai hampa ketika menggambar; goresanku
yang tadinya begitu halus mulai berantakan dan memiliki pola dan garis yang tak
konsisten. Aku mulai jenuh membaca dan belajar. Aku muak dengan kegiatan ku
menulis buku harian. Aku mulai merasa kosong. Aku hampa. Aku kheilangan minat;
saalah sat hal yang membuatku begitu hidup dan bahagia..
Kegiatan membaca dan menulis sudah
mulai kutinggalkan. Aku masih menggambar, karena itru merupakan bagian dari
pekerjaanku; seorang guru manga di sebuah tempat kursus manga di kawasan
Jakarta. Tapi, jelas sekali gambarku mngalami kemunduran. Aku mudah jenuh
dalam membuat sketsa, menggambar objek-objek realis. Rasanya aku ingin
cepat-cepat pulang saja. Mengakhiri semuanya.
Penyebab
Aku masih dalam menjalani proses
menemukan jawaban; apa yang menyebabkan hidupmu mulai begitu berantakan. Hidup
bagiku mulai terasa bgitu membosankan, orang-orang yang kutemui mulai terasa
begitu menyebalkan, keadaan begitu mengahntui. Malam hanya mengingatkan ku akan kesendirian, kesunyian , dan kesepian. Kegiatan membaca, menulis, dan
menggambar hanya sebuah rutinitas yang ingin segera kutinggalkan.
Bukan jawaban yang kutemui aku
justru dihadapkan oleh
kenyataan-kenyataan yang semakin rumit. Benang –benang kusut yang tak kunjung
kutemui pangkalnya. Tali yang mengikat erat hingga sulkut bergerak. Yang kutemukan hanya kebuntuan. Ketersesatan.
Dan pertanyaan-pertanyaan yang semakin banyak memperpanjang dan memeperparah
proses pencarian.
Pada tiitk ini, aku benar-benar kehilangan diriku sendiri . . .
Jakarta , 11 April 2015





Komentar
Posting Komentar