“But heart is fragile, it can’t promise to not back for being broken and torn.”

Tak terhitung sudah berapa kali aku mencoba untuk bangkit, menerima kenyataan paling tak kuinginkan, menerima sebagian rasa yang kunafikkan kedalamannya, meghadapi seorang yang dibalik keikhlasannya menyimpan luka yang tak jua mengering,  menghadapi orang paling ingin aku lupakan dengan menerima kehadirannya sepenuhnya.

Kusiapkan mental; seperti bersiap untuk perang, kusiapkan amunisi andalanku; canda, tawa, dan kekonyolan yang mereka sebut freak. Ku tunjukkan sebaris gigi putih seperti biasanya, melangkahkan kaki seringan mungkin, menyapa semua orang yang kutemui, tertawa untuk sebuah joke-joke yang sebenarnya tak layak untuk ditertawakan, total dalam semua tanggung jawab yang diembankan tanpa membawa-bawa ‘luka itu’ kemana-mana.
Tapi begitu mudahnya aku kembali pada titik terlemah, ketika sedikit saja aku tak mampu menutup mata dari bekas; jejak menyakitkan di mata seorang yang mendoakan kedamaian hatiku. Aku kalah dengan sekali sentil saja.

“I shoudn’t have pressed the pause button…”

Aku tahu rumus hidup paling sederhana, paling sering dikoar-koarkan orang yang sedang berjuang; keep moving. Tapi aku melanggarnya berkali-kali, aku memberi kesempatan; sejuta excuses, untuk aku mentolelir luka. Membiarkan luka semakin menganga dengan terus membuka lembaran lama; menengok ke belakang; sejarah yang hanya mengigatkan akan perih yang tak seharusnya diingat-ingat lagi.

“…it makes me stop all the things I’ve struggled.”

Langkah ku terhenti sampai di sini, setelah semua yang kulakukan kurasa baik untuk semua orang. Ketika semua yang kuperjuangkan, mungkin, selangkah lagi kudapatkan. Ketika akhirnya kuputuskan untuk mengambil resiko paling menyakitkan; kehilangan.

 “Maybe I haven’t accepted all the truth, the scars, the things I lost, the one who wants me to be me…”

Entah sampai batas mana ikhlas dalam definisiku, aku selalu kalah oleh hal-hal yang  meyakitkan tak peduli seberapa jauh aku melangkah; aku terus saja kalah oleh hal-hal kecil.. Egoku masih saja belum bisa menerima semuanya; hal-hal yang paling kutakutkan, hal-hal yang selama ini kuhindari, hal-hal yang kuharap tak pernah terjadi. 

“I wonder what kind of life brings me after what-the-hell-of things happened…”

Aku tak pernah tahu, pelajaran seperti apa yang sedang Tuhan ajarkan. Tentang makna sebuah kehilagan kah? Tentang keberanian menghadapi sebuah kenyataan pahit? Tentang penerimaan hal-hal yang paling ingin kutolak? Tentang kehakikatan kebesaran-Nya, tentang hal-hal yang pada akhirnnya menjadikan kebesaran-Nya sebagai satu-satunya sandaran yang menguatkan?

“..till God gives me to the greatest understanding I’ve never been learnt.”

Allah tentu memliki alasannya sendiri mengapa semua ini harus terjadi. Kegelapan yang sampai membuatku buta akan hal-hal baik yang sedang terjadi dalam hidup, penyesalan yang sampai membuat mataku blur akan harapan-harapan terbaik yang Dia janjikan. Kesedihan yang membawaku sampai ke dasar bumi yang paling dalam.

“I don’t know when will these all ended.”

Aku tak tahu kapan semua ini akan berakhir, tapi aku yakin sepanjang apapun sebuah cerita ditulis, penulisnya pasti sudah menyiapkan ending terhebat nya. Seperti juga episode terberat yang harus kujalani sekarang, skenario-Nya tentu membawaku pada berjuta kebaikan. Separah apapun keadaanku saat ini, serendah apapun aku posisi berdiriku sekarang,  aku percaya satu hal itu, “Pemahaman bahwa Tuhan akan membawaku pada pemahaman hebat tentang banyak hal.”


Komentar

Postingan Populer