Ada saat dimana aku tak bisa berhenti menangis untuk kemudian  beralih pada tawa yang terbahak. Ya, seperti aku yang biasa mentertawakan kebodohanku sendiri, mencibir kelemahan dan kealpaanku, juga mengejek setiapkali aku merasa lelah. Namun, sepertinya tak selamanya tangan tekepal tegar. Tanganku bisa saja meregang dan menegang kapan saja ketika letihku sudah berada pada puncaknya. 

Ada saat dimana aku memiliki banyak keinginan yang egois; aku tak butuh oranglain. Aku ingin menyepi, lari dari rutinitas konyol yang membosankan, dan melepas diri dari sentuhan-sentuhan kamuflase yang membuatku terperangkap pada rasa bergantung yang menekan. 

Ada saat aku ingin melepas semua yang kumiliki, menarik kembali mimpi-mimpi yang pernah ditawarkan-Nya, dan mengadu pada-Nya. Ya Allah, aku lelah. Aku lelah dengan sikap keras dan kenaifanku. Aku lelah dengan ketiadakpastian atas harapan-harapan tinggi yang menjatuhkan. Aku lelah dengan pintaku yang 'mengada-ngada'. Ya, Allah.. Aku ingin berhenti sampai di sini..

Ada saat dimana aku tak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan ketika aku berdialog dengan pantulaku di riak air. Yang kutemukan di sana hanya garis wajah yang berubah warna. Sebentuk wajah bulat dengan sudut bibir yang menyungging aneh. Aku tersenyum dengan garis bibir yang menekuk.

Ya Allah... Jangan anggap ini sebegai luapan keputusasaanku. Jangan katakan Kau sungguh-sungguh ingin menghentikan semua ini. Aku ingin terus maju ya Allah... Selama Kau masih memberiku kesempatan untuk hidup, aku tetap ingin bernafas melalui jasad yang sekarang Kau titipkan padaku. Sekarang, aku hanya butuh sedikit menarik nafas, berhenti sejenak, hingga aku kembali siap untuk terus melanjutkan semua yang kau amanahkan. Aku memang lelah ya Allah. Tapi bukankah itu artinya aku hanya butuh waktu yang cukup untuk beristirahat?


Komentar

Postingan Populer