Gadis diseberang sambungan telepon terisak, suaranya terbata mengucapkan satu kata,
'Terimakasih.'

Ame bingung harus bicapa apa, hanya kalimat yang berusaha menenangkannya,
'Aku menyayangimu, Ra. Perasaan itu engga akan habis sampai kapanpun. 
Aku yakin bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab untuk kamu.'

Tangis Ra meledak, sesak dada nya serasa lepas, los bersamaan dengan jeritannya yang serak.
Di seberang telepon. Dalam ruangan kecil dengan lampu yang dimatikan, Ra tersedu. Ra ingin mengucapkan banyak hal. Tapi setiapkali Ra ingin memulai mengucapkan sesuatu, beban di dadanya tumpah lagi. Hanya airmata yang tampaknya terus keluar, Ra seperti tak sanggup mengucapkan satu patah kata pun.

Bahu Ra terus berguncang, Ra ingin sekali memeluk Ame di seberang sana. Ra ingin mengucapkan rasa terimakasihnya. Ra ingin melampiaskan semuanya di depan Ame. Semuanya, hal yang selama ini mengganggunya. 

'Sayang..'
Ame terus berusaha menenangkannya. Airmata Ra terus tumpah. Ra membayangkan, jika saat ini mereka tak sedang bicara lewat telepon, tangan Ame mungkin sedang mengelus kepalanya berkali-kali sambil terus menenangkannya. Mendekap bahunya, ke dalam dada Ame.

Ra berusaha untuk tenang, tapi setiapkali laki-laki di seberang sana memanggil namanya, Ra selalu kembali terisak. 



Komentar

Postingan Populer