Petrichor
Sebuah alasan 


Ra mempercepat langkahnya, menyeruak masuk ke dalam kerumunan orang di halte bus tak jauh dari kampus. Ra tak suka berteduh. Hujan bahkan menjadi hal yang ditunggunya. Tapi kali ini, Ra ingin berteduh, Ra ingin meresapi aroma tanah saat Hujan menyapu jalan. 

Denting nada hujan mengentak dari atap halte, deru kendaraan memacu, sekeliling Ra sebagian besar sibuk dengan ponsel pintar masing-masing. Ra bahkan tak tertarik menengok layar hanphone di balik 'coat' coklat kucel nya yang berkali-kali bergetar. 

Ra tak peduli, siapa yang sekarang memintanya untuk mengangkat panggilan sekarang juga. Ra hanya ingin mencium aroma tanah basah, melepaskan headphone nya hanya untuk mendengar bunyi bunyian khas saat hujan, juga pemandangan daun-daun pohon besar di seberang jalan yang tertiup angin kencang. 

Ahh, kalau bisa Ra ingin menjadi Hujan saja. Atau daun yang diperciknya. Menjadi aroma yang menguap selepas hujan pun tak apa. Ra hanya ingin menghilang, melepas semua yang terhubung dengannya. Ra ingin dilupakan saja.

Bulir di mata Ra tiba-tiba saja menetes, dari balik kacamatanya yang berembun, bayangan Ame di seberang jalan dengan tangan melambai berlari kecil mendekat ke arahnya. Ra tersenyum, Ra masih memiliki sebentuk senja yang tidak pernah lelah menunggunya pulang. Setidaknya, untuk saat ini ketika bersandar  hampir menjadi kemustahilan, Ame membuatnya yakin bahwa Ra juga butuh oranglain.

"Duh, kenapa gak dijawab! Kamu dari tadi di sini? tumben neduh." Senyum jail Ame menjawil hidungya yang basah terkena hujan. Ra tersenyum, memeluknya erat. Ra tak ingin menghilang. 




Komentar

Postingan Populer