Hujan, Kopi, dan Kerinduan
Saya suka suasana mellow. Saat
gerimis perlahan turun di permukaan jendela., ataupun suara gemericik yang
memercik daun. Tanpa sadar, tangan saya menyetop bossa dan menyeruput segelas
besar es kopi. Suhu dingin tak menyurutkan niat saya untuk menambah banyak
pecahan batu es ke dalamnya.
Tak ada yang memanggil nama
siapapun untuk masuk dan bergumul ke dalam putaran memori saya, tapi seseorang
dengan kiasan bernama purnama tak sempurna seperti ikut duduk di samping saya.
Seseorang pernah bilang, artikel
yang pernah saya baca mengatakan, bahwa mengaitkan hujan dengan kenangan
termasuk penyakit jiwa. Mengetahui itu-karena saya termasuk orang awam yang
sedikit pengetauhuannya- saya percaya saja dan mengiyakan, mungkin saya memang
gila. Saya tertawa membacanya dan lurus saja melanjutkan banyak hal tentang
hujan.
Hujan dan Kenangan
Seorang sahabat yang akan terus
saya kenang, mengenang saya dalam gerimis. Balutan warna pakaian yang kami
kenakan saat itu diabadikannya dalam kenangannya yang menyatu dengan suasana dingin
dengan jalan yang basah. Saya juga, mengenangnya. Saat itu, cipratan rintik
hujan ke wajah saja, kemudian mengalir melalui bibir. Menyesap lelehan hujan
dengan rasa tawar yang
dingin, menghadap punggungnya menantang angin. Saya
diam saat itu, lalu sahabat saya mencandai saya untuk jangan tidur dalam
perjalannan. Saya menikmatinya dalam diam, menerima pias-pias dan cipratan
hujan yang terasa seperti menusuk-nusuk.
Tak ada yang memaksa siapapun,
kenangan tentang hal dan seseorang berekelebat begitu saja. Dia, kamu mungkin
hadir. Padahal tak sejnak pun saya dengan sengaja menyebut namaaya. Tapi saya
tak bisa mnngelak ketika suara gemercik di atap kemudian diikuti deras yag gema
nya berkejaran memanggil nama seseorang dan membiarkannya duduk di samping saya selama hijan turun.
Ah, siapapun yang saya kenang
saat hujan. Saya sangat ingin memeluknya.
Kopi dan Cara saya menikmatinya
Saya membuat dua sachet kopi
instan di sebuah gelas besar. Menyeduhnya dengan sedikit campuran air dingin.
Memenuhinya dengan banyak pecahen es batu sampai gelas penuh. Memandanginya
dengan wajah berbinar, meyeruputunya sedikit, dam meletakkannya di sisi kanan
meja kerja saya.
Saya tak perlu kopi mahal yang membuat saya harus merogoh dalam kocek saya, karena –jujur- saya memang bukan orang kaya yang
rela mengeluarkan uang kisaran 50 ribuan hanya untuk segelas kopi.


tipikal lu bgt.. melankolis 😄
BalasHapus